Senin, 25 Februari 2008

Candu Situs Porno - Editorial Media Indonesia

INTERNET adalah pisau bermata dua. Kemajuan teknologi itu bisa dimanfaatkan sepenuhnya untuk memajukan kesejahteraan umat manusia. Namun, pada sisi lain, internet dapat pula menjadi kekuatan yang merusak tingkah laku manusia.

Sisi yang negatif itulah yang kini dihadapi generasi baru bangsa ini. Situs porno internet telah merambah kalangan pelajar. Tidak hanya mewabah di kalangan pelajar pada tingkat sekolah menengah atas. Akan tetapi, bocah ingusan yang duduk di bangku sekolah dasar pun sudah ketagihan melihat situs yang menampilkan gambar-gambar porno.

Berdasarkan hasil penelitian, anak-anak itu membuka situs porno di rumah dan warnet. Mereka mengakses gambar porno bukan lagi sekadar iseng, melainkan lebih dari itu menjadi kecanduan. Padahal, dalam usia seperti itu, anak-anak suka meniru yang mereka tonton dengan akibat rendahnya penghormatan mereka terhadap alat-alat reproduksi.

Tragisnya lagi, sebagian besar orang tua tidak sadar bahwa anak-anak mereka sering menghabiskan waktu di internet, khusus untuk melihat pornografi.

Fakta lain ialah virus pornografi itu menjangkiti anak-anak yang berasal dari golongan ekonomi menengah ke atas. Inilah kalangan yang mampu memfasilitasi anaknya dengan internet di rumah atau memberi uang jajan berlebihan. Padahal, uang jajan itu justru digunakan si anak untuk menjelajahi situs porno di warnet.

Seberapa jauh orang tua mengenal anaknya agaknya layak dicurigai sebagai faktor yang turut menentukan di belakang kegemaran anak menonton situs porno. Setidaknya, itulah pelajaran yang dapat dipetik dari hasil riset mengenai anak-anak yang kecanduan narkoba.

Anak-anak yang kecanduan narkoba kebanyakan berasal dari orang tua baik-baik. Bukan keluarga broken home. Akan tetapi, orang tua sebenarnya tidak mengenal siapa anaknya. Orang tua tidak tahu anaknya mencoba-coba narkoba dan baru tahu ketika segalanya telah terlambat.

Kasus anak kecanduan situs porno agaknya hipotetis paralel dengan kasus anak kecanduan narkoba. Yaitu, orang tua tidak tahu apa yang dilakukan anaknya.

read more on MIOL

Tidak ada komentar: